Thursday, December 9

Belajar Memaknai Hidup

dikutip dari catan sahabat : Fahru Pena


Dulu sewaktu masih duduk di bangku SMA, saya pernah membaca sepotong sajak pada secarik kertas. Bunyinya kurang lebih seperti ini:


kau datang dan mengajariku cara untuk mengenalmutapi mengapa kau pergi sebelum sempat mengajariku cara untuk melupakanmu?


Tanpa terasa kini hampir tiga tahun saya meninggalkan bangku SMA yang penuh dengan kenangan itu. waktu memang terasa begitu cepat berputar. hingga pada suatu malam saya mencoba untuk mengingat kembali apa yang pernah saya lalui selama tiga tahun setelah meninggalkan sekolah. entah dari mana datangnya pikiran itu, saya tiba-tiba teringat pada sepotong sajak yang pernah saya baca dulu. dengan sedikit senyum saya mencoba menangkap makna yang ada di balik sajak itu dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. tentunya saya tidak menggunakan teori-teori apresiasi puisi yang selalu diagung-agungkan oleh para pengkaji karya sastra, khususnya puisi. tetapi saya lebih memilih untuk mencari maknanya dengan melihat realitas yang ada (hemat saya setiap karya sastra yang berhubungan dengan realitas kheidupan tidak sepenuhnya harus dianalisis dengan pendekatan mimesis). 


Setelah saya renungkan, ternyata potongan sajak tersebut berbicara dan berpesan tentang ketulusan dalam hidup. sajak itu mencoba menyadarkan kita betapa kita selalu menemukan hal baru dalam hidup setiap waktu. entah itu teman baru, motor baru, buku baru, atau bahkan sampai pada pasangan baru yang bisa memberikan kita semangat hidup yang baru pula. terkadang kita begitu gembira atau dengan bahasa yang lebih "dalam" berbunga-bunga ketika mendapatkan suatu hal yang baru. akan tetapi kemudian setelah itu begitu terpukul ketika kehilangan dan seakan tidak percaya. 

sampai kemudian kita bertanya-tanya mengapa kita harus kehilangan? 
mengapa kita harus ditinggalkan? 
mengapa dia mesti ada kalau toh pada akhirnya akan menjadi tiada? 


Berbagai macam pertanyaan bernada protes pun kita pendam dalam kepala kita. atau bagi yang kehilangan dan berhubungan dengan cinta lebih suka menyimpan berbagai pertanyaan itu dalam hati.


Saya, anda, dia, dan mereka tentunya pernah mengalaminya. saya mencoba untuk mengambil kesimpulan bahwa apapun yg kita alami dalam hidup ini hanyalah siklus belaka.semuanya akan mengalami pergantian sesuai dengan rotasi kehidupan. susah akan diganti dengan senang, sedih berganti dengan bahagia, cinta berganti dengan benci, dan begitu juga sebaliknya dan terjadi terus-menerus.

Saat kita memilih untuk mulai mengenal orang lain, maka sesungguhnya kita sudah memilih pilihan mutlak untuk siap berpisah dengannya setiap saat.

Hukum alam pun lewat para filsuf jauh-jauh hari sebelumnya sudah mempertegas semuanya bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini.tetapi yang abadi hanyalah perubahan. Sungguh sulit memang menerima kenyataan untuk kehilangan apa yang kita cintai. namun itulah seni dan hukum kehidupan. jangan pernah ragu, atau bahkan putus asa.tetap mantapkan langkah menuju apa yang ingin kita gapai di masa yang akan datang.



0 comments:

Post a Comment

silahkan tinggalkan komentar yang sopan dan membangun.
komentar yang berbau porno, sara dan tidak sopan dan juga spam akan langsung dihapus.
Terima kasih untuk komentar dan kunjungannya